Kemenkop Genjot Koperasi Melek IT

Balkot.com, Bandung — Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah lewat program reorientasi tengah bekerja keras menjawab tantangan Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) yang programnya telah ditandatangani Presiden Joko Widodo (Jokowi) November 2016, lalu.

“Kami di Deputi Bidang Pembiayaan melihat ada banyak potensi pendapatan yang harusnya dapat diraih oleh Koperasi, kami menyebut hal baru ini sebagai Ekosistem Koperasi Inklusif,” kata Deputi Pembiayaan Kementeri Koperasi dan UKM Braman Setyo di acara Peluncuran Jaringan Konektivitas di Jl Kebon Kawung, Pasir Kaliki, Kota Bandung, Selasa (14/3).

Bram, panggilan akrab dari Braman Setyo menjelaskan potensi yang dimaksud adalah saat ini ada 150.233 unit koperasi aktif, dengan jumlah anggota sebanyak 37 juta orang.

“Contoh sederhananya, jika seluruh anggota koperasi itu melakukan pembelian pulsa telepon. Katakanlah dalam sebulan setiap anggota melakukan pembelian pulsa satu kali dan koperasi mendapatkan Rp2 ribu berarti dalam satu bulan koperasi di seluruh Indonesia mendapatkan Rp74 miliar, dalam setahun Rp888 miliar, belum lagi transaksi lain seperti pembayaran listrik, PDAM dan traksaksi lainnya,” jelas Bram.

Oleh karena itulah, kata Bram, saat ini Deputi Pembiayaan tengah gencar melakukan sosialisasi tentang pentingnya koperasi melek teknologi informasi (IT).

“Dan ini juga satu dari tiga program besar yang sejak era Jokowi tengah gencarkan dilakukan oleh kementerian koperasi. Yaitu program reorientasi,” ungkap Bram.

Dengan dilakukannya bimbingan IT lewat program reorientasi itu, kata Bram, semoga citra jaman dulu (jadul) yang selama ini melekat dengan lembaga yang bernama koperasi, terkikis sudah.

“Di Bandung ini kami lewat Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Pemprov Jawa Barat tengah memberikan bimbingan IT kepada para admin koperasi,” papar Bram.

Adapun jumlah koperasi yang ikut serta dalam kegiatan bertajuk Peluncuran Jaringan Konektivitas jumlahnya mencapai 57 orang admin koperasi.

Lembaga yang memberikan pendidikan IT itu adalah PT Finnet Indonesia. Dengan aplikasi bernama cashcoop.co.id. MoU antara Kementerian Koperasi dengan lembaga itu sudah dilakukan sejak 10 Januari 2017, lalu.

“Pendidikan kepada admin koperasi ini kita gratiskan, tidak ada namanya joint free, biaya pendaftaran nol rupiah,” ungkap Bram.

Pendidikan kepada admin koperasi itu, saat ini sudah berlangsung di empat kota besar di Indonesia meliputi DKI Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Bandung. “Besok tanggal 22 Maret, kita ke Surabaya,” jelas Bram.


Inklusif Keuangan Lewat Tangan Koperasi

“Bila seluruh admin koperasi sudah melek IT, maka potensi pendapatan Rp74 miliar sebulan atau Rp888 miliar setahun bisa cepat terealisasikan. Dan penghasilan tersebut baru berasal dari kegiatan jual beli pulsa saja, belum termasuk seluruh program-program payment point online bank (PPOB),” katanya.

Dengan gambaran seperti tersebut di atas, bukan tidak mungkin janji Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan inklusif keuangan dari 36 persen menjadi 75 persen di tahun 2019 bisa terealisir.

“36 persen inklusi keuangan kita kan saat ini baru berasal dari perbankan saja, jadi besok ada lembaga non keuangan seperti koperasi yang akan membantunya,” kata Bram.

Berapa persen inklusi keuangan dari koperasi yang bisa didapat, Bram dengan yakinnya mengatakan.

“Tahun ini koperasi dengan gambaran tersebut di atas bisa membantu 30 persen. Jadi kalau sektor perbankan tetap mendapatkan 36 persen. Angkanya bisa mencapai 66 persen,” katanya.


 Jawa Barat Secara Bertahap

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat Dudi Sudrajat Abdurachman mengatakan yang ditanganinya di tingkat Provinsi adaah koperasi dan usaha kecil, untuk usaha mikro tingkat kabupaten/kota sementara tingkat menengah ditangani tingkat Kementerian.

“Untuk tingkat Provinsi jumlah koperasi dan usaha kecilnya 1.200 koperasi,” kata Dudi.

Adapun terkait tantangan SNKI Presiden Jokowi, Provinsi Jawa Barat akan melakukannya secara bertahap, tahapannya lima tahun.

“Jadi tahun 2017 ini akan diusahakan 20 persen, atau sekitar 200 koperasi dahulu yang,” jelas Dudi.

Dudi pilih 20 persen dahulu karena tengah melakukan pembenahan data koperasi agar betul-betul by name, by address. Selainitu juga akan dilakukan pemeriksaan kesehatan koperasi, dan pelatihan finansial teknologi (Fintek) seperti yang sekarang diselenggarakan.

Yang melakukan fintek sekarang ini 32 koperasi dengan jumlah anggota mencapai 34.852 orang, beberapa diantaranya adalah :

1. Koperasi Pegawai Kantor Kota Bandung dengan jumlah anggota 5.500 orang

2. Koperasi Mitra Industri Agronesia dengan jumlah anggota 346 orang

3. KSP Dwi Tunggal Putra Makmur dengan jumlah anggota 1.400

4. Kopdit Griya 17 dengan jumlah anggota 245 orang

5. Koperasi Shafira Laras Persada dengan jumlah anggota 1.800 orang

6. Kopkar PT Tanabe Indonesia dengan jumlah anggota 322 orang. (Aries)

Source : https://www.balkot.com/kemenkop-genjot-koperasi-melek.html